Cari Disini

Rabu, 11 Februari 2015

Behind The Scene Cilok Mindo '45

    
Pernah tahu cemilan ini? Cilok atawa Aci Dicolok. Kalau urang Sunda pasti tahu, yang bukan urang Sunda tapi pernah tinggal di bumi Parahyangan mestinya juga tahu. Ketika SD dahulu kala di Sumedang, tepatnya SD Panyingkiran II, ada warung sekolah yang salah satu jualannya adalah cilok. Coba kita bayangkan sebentar yah.....ciloknya  itu kenyal sekali tapi gak melawan ketika masuk mulut, bumbu kacangnya yang berminyak pedas sangat gurih...penampilannya juga oke banget menggiurkan. Yammiiiii......nom...nom... Jadi kangen masa-masa SD dulu.
       Di jaman sekarang, cilok seperti itu tidak ditemukan lagi. Bahkan, pernah suatu masa, cilok benar-benar gak ditemukan. Mungkin masa itu cilok dianggap makanan pinggiran yang gak ada gizinya sama sekali. Sampai-sampai kangen cilok tuh benar-benar gak kesampaian. Hehe....kayak hidup di planet mana aja... padahal mah di Bogor. Baru beberapa tahun belakangan ini, jajanan tempo dulu muncul lagi. Tukang cilok mulai mewarnai jalanan dengan roda-rodanya. Rasa kangen akan cilok sedikit terobati. Tapi tetap saja tidak ada yang seenak cilok waktu SD dulu. :) Bumbu cilok pun sudah tidak orisinil lagi, kebanyakan tukang cilok menggunakan sedikit kacang tanah untuk bumbunya. Mungkin untuk menekan biaya produksi kali yah.... maklum makin hari harga kacang makin mahal. Rasa cilok juga makin hari makin gak karuan, entah karena bahannya yang tidak bagus, entah karena pembuatannya, entah karena apa.... pernah aku membeli cilok yang baunya sudah tidak asik lagi, mirip-mirip bau asem kaos kaki. Bayangin aja..... Bayangin pula kalo anak-anak kita jajan cilok yang seperti itu, lantas dengan bumbu saos yang bahannya antah berantah. Hiyyyy.....
     Maap yah, tidak semua tukang cilok rasanya seperti itu. Ada juga cilok yang rasanya mantep dan hampir mendekati cilok SD dulu. Di Bandung ada yang namanya Cilok Bapri, Alhamdulillah sudah pernah nyoba, baru ketemu minggu kemarin. Dan rasanya......bikin kita bilang....What A Cheelock!!!!
Selain itu, belum pernah lagi ketemu cilok yang lebih enak rasanya.
      



     Berawal dari pengalaman ketemu cilok yang bau asem, radar sense of bussines-ku berbunyi. Di Jakarta, dimana emak-emak sudah mulai aware dengan makanan yang sehat, sepertinya punya usaha cilok asik juga. Disamping jadi sampingan, bisa menikmati cilok sesuka hati, dan yang penting ini....Zaki gak perlu jajan cilok sembarangan. Resep cilok dengan  mudah diperoleh dari mbah Google. Terima kasih dan sungkem buat para netizen yang telah berbaik hati bagi-bagi resep cilok.
      Pertama kali bikin cilok, rasanya atos alias keras. Sekali dua kali gagal, namun aku begitu pede-nya melempar ke pasaran. Tolok ukur keberhasilan cilokku adalah jika konsumen pesen lagi, berarti sudah diterima oleh lidah konsumen. Tapi, penjualan perdana itu tidak ada tindaklanjutnya. Konsumen tidak berkomentar (mungkin kasian kalo aku dikritik), tidak ada testimoni apa-apa. Akupun memvonis diri sendiri, bahwa eksperimen pertamaku gatot alias gagal total. Eksperimen selanjutnya, target berbeda lagi. Kali ini aku dapat testimoni dari seorang teman, dan inilah yang ditunggu-tunggu. Katanya: "Pas mau dimakan, ciloknya melawan".  Haahahaahha.....malu sebenarnya, tapi tidak apa, ini adalah awal kebangkitan. Calon pengusaha tidak boleh sakit hati ketika dikritik, malah jadikan kritikan itu adalah masukan menuju sukses. Yup....berjibaku lagi membuat adonan. Setelah berkali-kali gagal menemukan tekstur yang pas untuk cilokku,  akhirnya ketemu juga kombinasi resep yang pas. Yess....ketika dilempar ke konsumen target baik edisi gratis maupun berbayar, tanggapannya mulai positif. Sedikit keasinan atau kurang asin dan gurih adalah biasa, yang penting teksturnya oke.
      
Urusan tekstur cilok beres, bumbu kacang no problem, tinggal nama nih. Ketika itu kunamai Cilok Mingdo, artinya adanya Minggu Doang, mengingat aku bikin cilok cuma di hari Minggu. Hihihi...asal aja yah. Nah ternyata di kemudian hari, produksi cilok tidak hanya hari Minggu, nama Mingdo tidak relevan lagi. Nyari nama lain tapi gak jauh beda dengan sebelumnya, ketemu Cilok Mindo '45. Mindo itu artinya nambah lagi (ingat beger mindo? hahhaa) dan '45 adalah nama merk kebesaran  keluarga Apih dan Emih. Dan...inilah Cilok Mindo '45.....atau Cimind '45

Apa bedanya dengan cilok yang lain?
Cimind '45 dibuat dengan sepenuh cinta dari hati yang paling dalam.... bahan-bahannya kualitas super dan istimewa, dibuat tanpa menggunakan MSG, MNG atau bahan pengawet lainnya, penyedap alami dari kaldu ayam, pengenyal alami dari ekstrak rumput laut. Cimind '45 dikemas dengan cantik dalam keadaan vacuum dan disimpan dalam freezer yang membuatnya tetap awet meskipun sudah berminggu-minggu bahkan sampai 2-3 bulan.
O...kalo gitu pasti harganya mahal.... Saya tangkis! Tidak, Cimind '45 dibandrol Rp 15.000,- saja, dengan isi 20 jendol, harganya masih bisa bersaing dengan cilok yang lain.

Akhirnya, telah kutemukan dimana aku bisa menuangkan ekspresi dan mengembangkan sayap. Kuliner Sunda dengan segala singkatan-singkatannya seperti cimol, cilok, cireng, cilung, comro, misro dan lain-lain adalah target selanjutnya. Perjalanan Cimind '45 masih panjang, masih harus ke BPOM, LPP MUI dan sebagainya. Do'akan sukses yah..... Bismillaahirrohmaanirrohiim....Cilok Mindo '45 meluncur.....
            


Minggu, 22 Desember 2013

Air Terjun Cibeureum, hiking pertamaku



"Jam berapa sekarang, Ibu?" Zaki terbangun dari tidur malamnya. Rupanya dia gak jauh beda dari ibunya, kalo sudah ada rencana seru besok, malamnya gak bisa tidur nyenyak. 
"Jam 12.30 sayang, tidur aja lagi, pagi masih lama. Zaki harus istirahat dulu, besok perjalanan jauh. Tidur lagi yah..." jawabku. Zaki pun pulas kembali, sampai pagi. 

Pagi ini, Sabtu, 7 Desember 2013, aku dan Zaki punya rencana seru, treking ke air terjun Cibeureum di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Jadi inget masa-masa awal menjadi ibu, aku pernah berharap, anakku kelak bisa mencintai gunung, sebagaimana aku mencintainya dulu. Lalu aku juga berjanji dalam hati, suatu saat aku akan mengajaknya ke Gunung Gede Pangrango, sebagai perkenalan anakku dengan gunung. Bagaikan mimpi jadi kenyataan, aku sangat bersemangat dengan rencana ini. Jam 08.00 kami berangkat dari Bogor dengan menumpang minibus L300 Cianjuran. Luar biasa, sepanjang jalan Bogor-Cibodas, L300 ini melaju dengan lancar, tidak menemui titik kemacetan, berkelok-kelok di jalur alternatif dengan mulus. Meskipun jalur Puncak sangat macet, L300 kami berhasil menghindarinya, sehingga perjalanan hanya memakan waktu 2 jam perjalanan. 

Jam 10.00 sampai di areal wisata Cibodas. Hawa dingin mulai menyapa. Sudah hampir 2 tahun aku tidak menjejakkan kaki di Cibodas ini, terakhir ketika penilaian IP, itu juga hanya di sekitar Kebun Raya Cibodas. Aku hampir lupa jalan menuju gerbang pendakian. Aku mengingat-ingat ketika waktu dulu tahun 2001 ikut pendakian Kartini, di areal parkir bis dimana aku istirahat di sebuah warung makan. Sekarang Cibodas sudah jauh berbeda, tapi tidak sulit untuk menemukan gerbang untuk menuju air terjun, karena disana sini banyak petunjuk jalan. Lihat, Zaki sudah menemukannya. :) 

Aku dan Zaki berjalan dengan pasti menuju gerbang. Perasaan kami mulai meletup-letup. Betapa tidak, ini pertama kalinya aku kembali ngetrek setelah lebih dari satu dasawarsa, dengan ANAKKU. Aku tidak tahu apakah kakiku ini masih kuat menopang berat tubuhku ketika menapaki tangga batu. Apakah napasku masih kuat seperti dulu. Jantungku berdegup lebih kuat. Apalagi perjalananku kali ini membawa misi menyangkut masa depan anakku. Ibarat syair lebay, gunung pun akan kudaki, lautan kan kusebrangi, demi kamu, Anakku. Mungkin Zaki juga merasakan hal yang sama, aku yakin itu. 

Akhirnya sampai juga kami di gerbang pendakian Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGPP). Tiketnya murah banget, cuma Rp 3.000,00 per orang. Gerbang ini merupakan gerbang bagi yang akan mendaki ke puncak Gunung Gede dan puncak Gunung Pangrango. Sudah banyak pengunjung yang akan naik, baik yang akan berkemah di puncak Gede dan Pangrango, yang hanya sampai air terjun, atau yang sekedar jalan aja berdua-duaan. Tujuan pengunjung sangat kelihatan dari style mereka. Pendaki sudah siap dengan keril mereka yang overweight itu dan sepatu gunungnya. O my God.... I miss me very much. Pengunjung shortime cukup dengan sandal terbuka dan tas sekedarnya, seperti kita. Hehee....Nampang dulu, Zak......

Satu persatu anak tangga batu kita lalui. Jalan terus menanjak seakan-akan tidak ada ujungnya. Sedikitpun tidak aku lihat kelelahan di wajah Zaki. Dengan ringannya kaki Zaki berjalan dan jika tidak aku ingatkan terus, pasti dia sudah jauh meninggalkan aku. Hebat anakku, sekalipun tidak pernah aku dengar napasnya ngos-ngosan. Malah aku dengar napasku sendiri ngos-ngosan dengan keringat gede-gede. Hehehe.....faktor U, kata orang-orang. Sepanjang jalan, Zaki tidak henti-hentinya menyapa pengunjung yang berpapasan atau yang kebetulan kita salip. Sempat-sempatnya juga dia kenalan dengan pengunjung yang sama-sama akan ke air terjun. Zaki.....zaki..... kamu itu ibu banget yah....... Sambil melewati hutan tropis yang masih basah karena tak henti-hentinya hujan, Zaki mereview pelajaran2 sekolahnya. Dia cari benalu, tali putri, akar pohon, dan lain-lain. Pas banget buat ngingetin pelajarannya semester ini yang bertema Cinta Lingkungan.
       
Setelah satu  jam perjalanan, akhirnya sampai kita di Telaga Biru. Telaga kecil dengan air berwarna biru. Ayo, Zaki, tinggalkan jejak dulu disini.......artinya difoto dulu. Hehe......
 
Perjalanan kami lanjutkan. Tidak jauh dari Telaga Biru,  kami melewati jembatan beton. Jembatan beton ini dibangun melintasi Rawa Gayonggong, jembatannya cukup panjang. Keberadaannya cukup romantis, menurutku. Bayangkan, di tengah hutan ada jembatan seperti ini. Entah dibangun tahun berapa, yang jelas dulu terakhir aku kesini 12 tahun yang lalu, belum ada jembatan romantis ini. Rasa lelah setelah menapaki tanjakan tadi, hilang begitu tiba di jembatan ini.

 Setelah melewati Rawa Gayonggong, jalan mulai menanjak lagi. Kami pun bersiapberkeringat lagi. Tapi tak lama kemudian, kami tiba di Pos Panyangcangan, artinya kami tinggal 300 m lagi menuju air terjun Cibeureum. Pos ini merupakan pertigaan, jika kita ambil jalan kiri yang menanjak maka kita akan menuju Puncak Gede Pangrango dengan maksimal jarak 10,5 km menuju puncak Pangrango. Jika kita ambil jalan kanan menurun, maka kita akan tiba di air terjun Cibeureum.



 
"Zaki, tahu tidak.... jalan ini adalah jalan menuju Alun-Alun Suryakencana dan Kawah Gede, Ibu pernah berkemah di sana, seperti di foto," kataku sambil menunjuk jalan arah ke kanan.
"Aku sudah ada belum?" tanya Zaki.
"Belum, ehmm.......Zaki masih di langit," jawabku sambil bingung gimana menjelaskannya.
"Nggak....aku masih di perut Ibu," katanya. Hahaahha....aku tersenyum dan mencium keningnya dengan gemes.
    
Jalan mulai menurun setelah dari Panyangcangan. Tak lama terdengar suara gemuruh air, aku yakin itulah air terjun yang kita tuju. Dari balik dedaunan, akhirnya terlihat semburan air dari ketinggian. Subhanallooh...... aku berseru pada Zaki. Alhamdulillah, kita sampai di air terjun. Aku berseru dengan hati yang membuncah. Sejak dari bawah aku terus berdoa agar diberi kelancaran menuju air terjun. Zaki pun terus aku motivasi, aku ingatkan terus pesan Bu Estu. Tapi rupanya Zaki lebih semangat dari motivatornya. Hahahahha....Dia ingin segera nyebur ke air terjun.
       
Aku masih ingat ke air terjun ini tahun 2000 ketika mendaki dengan teman-teman KP2LN Bandung 2. Air terjunnya sih gak berubah, cuma sarana penunjangnya sudah lebih baik. Sudah ada jembatan beton lagi dan toilet yang bersih. Terbayang foto kita bersama ketika duduk siap-siap mau nyebur, ada yang ikut kefoto bareng Wagino. Hiyyyyy.....
         
Semburan air terjun terasa sampai jauh, hawa dinginnya benar-benar menusuk. Disana sudah ramai pengunjung. Zaki malah ketemu teman baru, seorang anak kecil berumur 5 tahun bernama Rizki sudah nyebur duluan ke air terjun. Aku mengarahkan Zaki agar sebisa mungkin cipratan air terjun mengena di matanya. Menyenangkan sekali berada di bawah sini. Walaupun dingin banget, tapi hatiku begitu hangat. Ya Allah, apapun yang kulakukan untuk kesembuhan anakku, semoga Engkau melihat kesungguhanku. Aku menagih janji-Mu bahwa jika hamba-Mu bersungguh-sungguh, Engkau akan kabulkan hajatnya. Man Jadda Wajada.

Hanya sampai setengah jam saja kita berkecimpung dalam dinginnya air terjun. Sempat pindah ke air terjun yang satunya, lebih tinggi namun arusnya lebih kecil, sehingga tidak menarik untuk nyebur. Zaki sudah mulai menggigil kedinginan. Biasanya dia excite banget bermain dengan air, namun kali ini terlalu dingin, sehingga tidak tahan lama-lama. Waktunya makan....... dan istirahat. Beruntung aku bawa perbekalan lengkap dengan jaket dan jas hujan, sehingga zaki bisa lebih terlindungi dari hujan dan gerimis. Misi terselesaikan. Alhamdulillah.......

Kita turun gunung jam 12.30 WIB. Badan sudah segar dan tidak terasa capek lagi, sepertinya perjalanan akan lancar jaya. Berkali-kali kita berpapasan dengan para pendaki yang akan ke Puncak Gede Pangrango. Tak lupa Zaki selalu menyapa mereka. God, we'll miss the waterfalls. Tiba di gerbang pendakian jam 14.00, istirahat dan makan lagi. Entah kenapa, kalo di gunung itu, menu yang paling nikmat pasti makan mie instant rebus. Padahal kalo di rumah, mie instant  sangat tidak diperbolehkan. Kali ini kita langgar, deh..... hehehe....
     
Sebelum kembali ke kota, kita sempatkan mengunjungi Kebun Raya Cibodas. Numpang sholat dan setor. Sayang gak bisa keliling dengan menggunakan trem, karena sudah terlalu sore dan tidak ada pengunjung lagi. Akhirnya kita pulang dengan kenangan paling indah bersama Zaki. Aku tidak khawatir dengan Zaki, dia hanya merasakan pegal semalam saja, lebih cepat dibanding aku. Aku pun kembali merasakan sensasi pegal-pegal nikmat di kedua kakiku, rasa yang sama 12 tahun yang silam. Walapun demikian, sekarang kakiku tidak sekuat dulu. Kakiku masih kaku jika berhadapan lagi dengan gunung. Tapi inilah janjiku pada gunung, aku akan kembali mencintainya, dengan anakku........






 






Minggu, 25 November 2012

Senyum Di Wajah Bae


23 Nopember 2012

“Kenapa Bae sering ga sekolah?” tanyaku
“Ga punya ongkos, Bu,” jawab Bae polos. Dia memainkan lengan baju putihnya yang kucel dan ngatung. Mataku sudah mulai ga bisa kompromi. Ada air mata di sudut mataku siap tumpah.
“Emang ongkos ke sekolah berapa bolak balik?” tanyaku
“2 ribu,” jawabnya. Aku melihat Bae dari atas sampai bawah. Kelihatan celana putihnya pun sudah ngatung pula. Yang pasti bukan karena model jangkis dia berpakaian seperti itu. Sejak masuk SMP baju seragamnya gak ganti-ganti.
Hadeuh, ngelus dada rasanya denger jawaban Bae seperti itu. Bayangkan, jaman milenium begini masih ada orang yang nggak bisa sekolah gara-gara ga bisa bayar ongkos angkot 2 ribu perak. Kalo SPP sudah pasti anak ini menunggak berbulan-bulan. Aku tanya ke bagian TU, Bae sudah menunggak sejak Agustus 2012. Itu artinya sejak Kelas III Semester I dia ga bisa bayar SPP. Padahal SPP Bae hanya 60 ribu rupiah. Bandingkan dgn SPPnya Zaki ketika TK sebanyak 350 ribu. Duh, Gustiii...

Penasaran dengan sosok Bae, aku menghubungi wali kelasnya.
“Bae sering alpa, Bu. Kalo prestasi, Bae termasuk yang biasa-biasa aja, golongan menengah ke atas. Perilaku Bae juga baik, tidak nakal. Namun sayang aja sering tidak masuk. Saya sudah mengajukan agar Bae diberikan SKT agar terbebas dari SPP, namun saya kurang tahu kenapa sekolah ga bisa mengeluarkan,” Gurunya menjelaskan.

Aku pun menjelaskan bahwa kedatanganku ke sekolah  Bae untuk menyampaikan amanah dari seorang donatur yang akan membayar SPP Bae. Gak tanggung-tanggung, yang dibayar SPP sampe Juni 2013, hingga Bae lulus kelas III SMP.  Mudah-mudahan dengan lunasnya SPP Bae, Bae tidak minder lagi sekolah, lebih semangat untuk sekolah, tidak bolos lagi dan yang penting Bae dapat berprestasi.

Siapakah Bae? Bae adalah Ahmad Baehaqi, anak kedua dari empat bersaudara. Kakaknya sudah lulus SMK dan baru 10 hari dapat pekerjaan. Tinggal di daerah Ciherang, Dramaga, Bogor.  Bae adalah anak laki satu-satunya. Satu adik perempuannya masih kelas 2 SD dan satu adiknya lagi masih 3 tahun.  Ibunya hanya ibu rumah tangga biasa, bapaknya kerja di bengkel sepatu. Kondisi ekonomi yang sedang sulit membuat orang tuanya hanya bisa memberikan pangan saja, tidak bisa mencukupi kebutuhan lainnya. Masih beruntung anak sulungnya bisa lulus SMK. Orang tuanya berharap, anak laki satu-satunya itu pun dapat mengikuti jejak kakaknya, lulus hingga tingkat SMU.  Karena suatu saat Bae pasti akan menjadi tulang punggung keluarga, mereka merasa tidak boleh gagal mendidik Bae.

Aku jadi ingat Bayek di novelnya “Ibuk” karya Iwan Setiawan. Anak lelaki satu-satunya di keluarga Ibuk berhasil dalam karirnya dan mengangkat keluarganya dari keterpurukan. Padahal ketika sekolahnya, sepatu Bayek aja sampe bolong ga ganti-ganti. Novel ini aku pinjamkan ke anak sulungnya agar menjadi motivasi bahwa kemiskinan tidak menjadi penghalang untuk menjadi sukses, agar mereka jadi anak-anak yang tangguh dan bersemangat. Hingga akhirnya anak sulungnya itu punya keinginan untuk kuliah lagi jika ada kesempatan. Meskipun sekarang dia bekerja, tapi keinginan itu sudah ada. Aku pun memperkenalkan beberapa sekolah kedinasan yang mungkin bisa jadi pilihan.  
Trims banyak untuk Pak Goen atas novelnya. :-)

Kembali ke cerita tentang Bae. Sepulang dari sekolah Bae, aku pergi mencari rumah Bae. Tidak terlalu sulit mencari rumahnya. Dengan bekal ilmu selama menjadi Tim Buser (Buru Sertifikat) Barjam (hehe...), akhirnya aku menemukan kontrakan rumah Bae dan bertemu orang tuanya. Ibunya begitu gembira melihat aku turun dari ojeg.  Kegiatan rutinnya menjemur baju langsung dihentikan. Wajahnya tirus, badannya kurus. Dia masih memakai daster ungu dengan bolong disana sini. Yang jelas bukan model seksi juga dia berpakaian seperti itu.

Aku dipersilakan masuk dan disuguhi air putih. Seperti biasa, sepanjang pertemuan dengan Ibunya Bae selalu diwarnai dengan tangis-tangisan. Bukan dia aja, aku juga obral tangisan. Aku sampaikan kuitansi pelunasan SPP Bae. Dia terkejut dengan jumlah yang besar yang tertera di kuitansi. Aku bilang, Alhamdulillah ketika dinas kemaren aku bertemu seorang teman yang sangat baik hati dan mau membantu keluarga Bae. Ibunya Bae langsung nangis lagi, kalo nggak dicegah barangkali sampe sungkem-sungkem.
“Alhamdulillaaaaaa...h Teh, Ibu sangat berterima kasih. Tolong sampaikan ke Ibu yang sudah membayar SPP Bae. Hatinya sungguh mulia, mudah-mudahan diganti oleh Allah dengan rejeki yang berlipat-lipat. Ibu dan anak-anak pasti nggak akan lupa. Bae jadi tidak  putus sekolah,  Bae pasti akan semangat sekolah. Ibu juga selalu mengingatkan ke anak-anak teh agar selalu ingat dan mendoakan orang-orang yang sudah membantu Ibu. Mudah-mudahan dikabulkan ku Allah semua keinginannya. Tolong sampaikan ya Teh.....” katanya.

Aku mengiyakan. Seketika aku teringat masa-masa sekolahku. Ketika keadaan ekonomi yang sulit, aku pun kesulitan membayar SPP. Alhamdulillah ada tetangga yang sangat peduli dengan keluargaku. Mereka sangat dekat sehingga sudah kuanggap seperti orang tuaku sendiri. Apa Wasman dan Ibu. Mereka bukan orang kaya raya, mereka hanya orang yang berkecukupan namun berhati mulia. Merekalah yang turut berjasa membesarkan aku. Tidak punya hubungan darah, tidak ada pertalian keluarga. Tapi mereka peduli dengan apa yang kami alami. Aku ingin mewarisi kedermawanan  Apa dan Ibu.

Rasanya gimana....gitu  jika aku tidak peduli dengan orang-orang yang sedang kesulitan terutama untuk sekolah. Aku ingin mereka memiliki kesempatan yang sama, minimal  seperti aku. Aku ingin mereka merasakan manisnya keberhasilan yang pernah Emih alami ketika anak-anaknya sudah bekerja dengan mapan. Aku ingin melihat mereka tersenyum dengan keyakinan bahwa masa depan tidak sesuram apa yang mereka alami sekarang. Tidak perlu menunggu jadi kaya raya untuk jadi dermawan, tidak perlu menunggu banyak materi untuk jadi dermawan. Menjadi dermawan dengan segala yang sudah ada pada diri kita. Memberi semangat, memberi do’a, memberi peluang, memberi harapan, itu yang baru bisa aku  lakukan.

Terimakasih banyak kepada semua teman yang sudah membantu dan berpartisipasi.
Sekarang sudah ada senyum di wajah Bae. :-)

Janji Rafli


1.tidak mendorong  zaki
2.tidak naik jemputan pa wandi lagi
3.tidak di depan  lagi karna di depanya ada zaki
4.tidak pulang
5.segera berwudu jika mendengar azan
6.tidak memaksa zaki
7.pulang nya ter lambat
8.tidak muda menangis
9.tidak marah
10.tidak sampai ke rumah rafli
11.tidak mandi
12.tidak pake sabun
13.tidak pake sampo
14.tidak pake baju tidur
15.tidak sekolah lagi