Cari Disini

Tampilkan postingan dengan label zaki. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label zaki. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Juli 2015

Dalamnya Puisi Soe Hok Gie

Posting ini merupakan repost dari blog multiply-ku yang sudah almarhum. Setelah di-googling berdasarkan tag "kaki-kakiku kaku", ternyata ada beberapa blogger yang sudah mengutip postingan ini. Alhamdulillah, ga usah mikir-mikir lagi untuk mencari kata-kata. Lets cekidot....


Mandalawangi - Pangrango


Senja ini, ketika matahari turun kedalam jurang2mu
aku datang kembali
kedalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu

walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
dan aku terima kau dalam keberadaanmu
seperti kau terima daku

aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
hutanmu adalah misteri segala
cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta

malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi Kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua

"hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya "tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar
'terimalah dan hadapilah

dan antara ransel2 kosong dan api unggun yang membara
aku terima ini semua
melampaui batas2 hutanmu, melampaui batas2 jurangmu

aku cinta padamu Pangrango
karena aku cinta pada keberanian hidup

Jakarta 19-7-1966



Puisi ini memberiku inspirasi untuk mulai mencintai gunung. Aku gak tahu tepatnya kapan aku temukan puisi ini. Lupa. Yang aku ingat, sejak tahu puisi ini dibuat oleh Soe Hok Gie, aku mulai tertarik dengan pembuatnya. Dan tertarik juga untuk menyambangi Mandalawangi. Pengen tahu sehebat apa pesonanya sampai-sampai Gie mengidolakan tempat itu.

Bersyukur, aku gak perlu jauh-jauh cari info. Teh Dian, temanku waktu di Bandung, meminjamkan buku antiknya berjudul CATATAN SEORANG DEMONSTRAN (CSD). Kusebut antik karena warna kertasnya yang udah kuning kecoklatan dan jahitannya yang udah gak utuh lagi menampakkan kalo buku itu sudah berumur. Mungkin karena itu aku tidak menemukan puisi Mandalawangi-Pangrango dalam buku CSD, karena ada beberapa halaman yang hilang.


Soe Hok Gie, lahir di Jakarta 17 Desember 1942, seorang mahasiswa UI tahun '66 yang juga aktivis dan banyak menyuarakan tentang HAM dan tentang semua ketidakadilan yang terjadi di masa itu. Orangnya idealis, berani dan gigih. Dia mengobarkan pemikiran dan sikapnya melalui tulisan, dalam mimbar diskusi, rapat senat mahasiswa sampai berdiri di barisan terdepan dalam demonstrasi menentang rezim Soekarno. Dia juga tergabung dalam Mapala UI. Alun-alun Mandalawangi di gunung Pangrango adalah tempat favoritnya. Dia meninggal di gunung Semeru bersama seorang kawannya akibat menghirup gas beracun yang menghembus dari kawah Mahameru, tanggal 16 Desember 1969, sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27. Pada tahun 1975, makamnya dibongkar dan tulang belulang Gie dikremasi dan abunya disebar di puncak Gunung Pangrango. 


Cita-cita Soe Hok Gie untuk mati di tengah alam betul-betul kesampaian. Cocok dengan ungkapan dari puisi Yunani yang suka dikutipnya; "Nasib terbaik adalah tak dilahirkan. Yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Bahagialah mereka yang mati muda."

Soe Hok Gie memang mati muda. Tapi semangatnya tetap hidup dan memberi inspirasi pada banyak orang. Sampai saat ini, puisi Mandalawangi-Pangrango menjadi puisi wajib bagi para pendaki gunung.


Sabtu, 29 September 2012

Kakiku Yang Kaku

Aku dan Sang Gunung, nasib kita ibarat sepasang kekasih yang lagi break. Aku sekarang cuma bisa lihat dia dari jauh. Dia juga cuma bisa menatap aku dari jauh. Kalo ketemu, wua.....h, apapun bisa terjadi.
Yup, sembilan tahun sudah kita berpisah. Aku tinggalkan Sang Gunung demi seorang kekasih baru. Cuih...cuih.  Maafkan aku.... Tapi, kalo Sang Gunung tahu tujuanku meninggalkannya, ia pasti tersenyum. Aku ingin mewujudkan rumah tangga yang sakinah. Bukan, aku bukan selingkuh, karena suatu saat aku dan orang-orang yang kucintai akan kembali untuk mencintai Sang Gunung.

Memang sejak menikah sembilan tahun yang lalu, aku memutuskan untuk sementara menghentikan semua kegemaranku untuk bertualang. Padahal pada saat itu, aku sedang 'jatuh cinta' bener dengan alam. Ga' bisa lihat tanggal merah, kalo ga' mudik, bawaannya ya kemping, cari udara segar di ketinggian. Rasanya masih kebayang sampe sekarang. Mak Nyooos...

Aku mulai konsentrasi dengan impian baru. Punya rumah tangga yang harmonis, punya anak-anak yang sholeh, punya rumah yang teduh dan nyaman segalanya, punya bla..bla..bla.. Pokoknya banyak deh kemauannya. Kalo ada tanggal merah, kegiatannya menghabiskan waktu dengan Jagoanku Zaki. Bukan kasak kusuk lagi nyari temen buat kemping. Ya, perubahannya hampir 180 derajat. Jarang sekali ada acara jalan-jalan jauh seperti dulu. Sampai-sampai, aku merasa kakiku sudah kaku kalo berhadapan dengan Sang Gunung. Kakiku tidak segagah dulu.

Sekarang, Zaki-ku sudah 7  tahun. Dia sudah besar. Aku ingin mengenalkan alam dan Sang Gunung kepadanya. Supaya dia mencintai alam sejak dini. Ga' seperti ibunya, yang terlambat mencintai Sang Gunung.

Edited from weenzaki.multiply.com