Cari Disini

Selasa, 11 Agustus 2015

Sepanjang Jalan Kereta........



Ibu, nanti ibu dipecat yah dari pekerjaannya!!

Itulah sepenggal kalimat ancaman yang dilontarkan Zaki jika sedang kesal karena ketinggalan KRL Citayam Nambo. Kalau sudah begini, ibunya hanya bisa diam dan berharap Zaki bisa mengalihkan percakapannya ke obyek kereta yang lain.

Zaki, anakku 10 tahun. Cita-citanya sungguh mulia, menjadi masinis, supirnya ular besi yang bisa mengangkut ribuan orang dalam sekali perjalanan. Keinginannya menjadi masinis membawanya bertekad untuk bisa melanjutkan sekolah perkeretaapian, gak tanggung-tanggung ia ingin sekolah di Madiun dan kuliah di Jepang atau di Belgia. Kecintaannya kepada kereta api berawal dari perkenalannya dengan KRL di kelas TK dan berlanjut dengan hobi ibunya ngajak jalan-jalan yang salah satunya dengan naik KRL. Kecintaanya makin bertambah setelah mendapat reward atas perilakunya yang baik berupa majalah KA setiap bulan. Setiap bulan tanggal 10 dia pasti mengingatkan ibu atau bapanya untuk membeli majalah KA.

Zaki 7 tahun hobinya jalan-jalan sepanjang gerbong. Dari gerbong 1 sampai gerbong 8 disikat habis, kadang-kadang 1 rit alias bolak balik.  Sebagai ibu yang baik, aku ikuti kemanapun kaki Zaki melangkah. Gak peduli dengan tatapan penumpang yang lain, yang mungkin bertanya-tanya dalam hati, knapa ibu anak ini bolak balik aja kayak setrikaan. Hehe.... Pada usia itu, memang Zaki lagi senang-senangnya bergerak, jalan kesana kemari ga ada capenya. Gak kenal kata low batt. Dan....waktu pun bergerak cepat. Zaki 10 tahun sudah tidak jalan sepanjang rangkaian kereta. Zaki sudah menikmati perjalanan KRL dengan lebih  tenang, hanya tetap aja ciri khasnya ada, yaitu dia gak mau duduk di kursi. Dia menikmati perjalanan dengan cara berdiri menatap pemandangan dari pintu otomatis. Zakiku emang unik. Hehhee....

Sekarang, hampir tiap minggu Zaki bertanya, apa yang akan dilakukan hari Sabtu atau Minggu. Kalo aku bilang “di rumah aja”, dia akan bilang “ah, ibu mah jahaaat” dengan logat manja. Sebenarnya aku udah tahu, dia pasti berharap dapat bonus jalan-jalan naik kereta api atau KRL. Dan aku pun nggak pelit untuk menyisakan waktu untuk buah hatiku itu setiap akhir pekan. Its quality time for us. Jadi kalo kita nggak suka ajak-ajak yang lain, maap-maap yah......

Cerita ini adalah tentang perjalanan Zaki mengeksplor stasiun-stasiun di  luar jabodetabek. Belum  begitu banyak sih karena waktunya juga hanya Sabtu Minggu, jadi kita cari kereta yang dekat-dekat aja. 

        1.   Stasiun Cianjur
       
       Perjalanan ke Cianjur kali ini menggunakan kereta api relasi Bogor – Sukabumi – Cianjur. Berangkat dari Stasiun Bogor Paledang pukul 07.55 pagi. Untuk bisa naik kereta api jurusan Cianjur ini kita tidak bisa beli tiket mendadak jika berangkat di hari Sabtu dan Minggu. Di depan tiket pasti ditolak mentah-mentah karena sehari sebelumnya tiket sudah terjual habis. Memang peminatnya banyak mengingat jika perjalanan ditempuh dengan mobil saja bisa memakan waktu 4-5 jam dengan macet-macetnya. Tapi jika ditempuh dengan kereta api hanya memakan waktu 2 jam untuk sampai ke Sukabumi dan 3 jam lebih untuk sampai ke Cianjur. Makanya tidak heran, pada hari H tiket selalu habis terjual.

           Kereta api yang melintasi jalur ini adalah KA Pangrango dan KA Siliwangi. Dalam satu rangkaian ada kelas Bisnis dan Kelas Ekonomi. Waktu itu, dengan harga Rp 20.000,- kita sudah bisa naik di kelas ekonomi menuju Sukabumi. Sedangkan kelas ekonomi menuju Cianjur ditarif Rp40.000,- Sebenarnya Sukabumi-Cianjur kan ga terlalu jauh yah, tapi kenapa tarifnya disamakan? Jadi kesannya ke Cianjur  itu lebih eksklusif. Bisa jadi sih alasannya karena peminat jurusan Cianjur sangat sedikit, sedangkan biaya perjalanan juga memakan biaya yang tidak sedikit, makanya ditentukan tarif yang lumayan mahal. Memang kalo sudah sampai di Stasiun Sukabumi, jumlah penumpang  menurun drastis. Bisa-bisa satu gerbong hanya diisi oleh satu orang saja, pokoknya serasa kereta carteran deh.  Oya, denger-denger seiring dengan kenaikan tarif Commuter Line, tarif kereta api jurusan ini ikut naik juga dari Rp20.000,- menjadi Rp35.000,-


Jalur Bogor-Cianjur didominasi oleh pemandangan yang indah. Hutan, gunung, sawah, dan ada terowongan Lampegan yang kabarnya merupakan terowongan tertua di Indonesia dan memiliki panjang 686 m. Suatu hari, Zaki dan Ibu pengen berhenti di Stasiun Lampegan, hanya ingin berfoto di depan terowongan tua itu. Hehehe.... Kalo temans mau melewati terowongan ini, harus punya tiket sampai Cianjur yah....soalnya lokasinya berada di jalur Sukabumi-Cianjur.

Perjalanan berakhir di Stasiun Cianjur. Kami tiba di Cianjur pukul 11.40 WIB. Karena tidak ada tujuan lain, Zaki dan Ibu sudah membeli tiket balik sejak di Bogor tadi. Kami harus menunggu dua jam sebelum kereta berangkat lagi. Masih cukup waktu untuk sholat dan nyari makan siang. Jam 13.50 WIB kita capcus lagi ke Bogor melewati pemandangan yang sama dan menyenangkan.



Jadwal kereta ini bisa dilihat di http://keretaapikita.com/jadwal-kereta-api-pangrango-dan-siliwangi/


      2.  Stasiun Purwakarta

         Kereta api yang melayani relasi Jakarta-Purwakarta disebut KA Lokal. Dengan hanya ada kelas ekonomi, KA Lokal ini termasuk yang paling murah untuk perjalanan jarak jauh. Gimana nggak murah, dari Stasiun Jakarta Kota menuju Stasiun Purwakarta cukup merogoh kocek Rp6.000,- saja. Murah bingits.... Ketika tarif kereta yang lain mengalami kenaikan, KA Lokal istiqomah dengan tarif enam rebunya. Hm....Zaki dan Ibu ga sabar pengen menjajal KA Lokal ini. Pengen lihat tumpukan kereta bekas di Stasiun Purwakarta.
KA Lokal menuju Purwakarta hanya tersedia di Stasiun Jakarta Kota. Waktu itu kita ambil jadwal keberangkatan pukul 10.15 pagi. Antrian di loket tidak terlalu panjang. Tinggal menyebutkan jumlah penumpang, bayar, tiket sudah di tangan, gak perlu menyertakan KTP lagi. Mudah banget deh.
        Kereta sudah datang.... Zaki dan Ibu naik gerbong. Duduk di KA Lokal tidak ditentukan, bebas mau duduk dimana aja. Ceritanya kita pengen di gerbong paling belakang supaya bisa melihat pemandangan keseluruhan. Tapi ternyata, gerbong belakang diisi gerbong yang ada mesinnya, udah berisik, ga ada pemandangan lagi. hihihi....tapi biarpun berisik, Zaki betah lho di gerbong ini. Berkali-kali kuajak pindah, tetep gak mau.  KA Lokal ini tidak senyaman kereta ekonomi yang lain. AC ada, tapi puanasnya...minta ampun. Setara dengan harga tiketnya yang murah, mungkin AC di KA Lokal ini tidak dipernah ditambah freon. Mandi keringat....nikmati sajalah....
         Tiba di Stasiun Purwakarta pukul 12.43 WIB. Dan seperti biasa, tiket pulang sudah siap. Turun dari kereta, kita cepet-cepet ambil spot untuk ambil gambar. Terpesona dengan tumpukan gerbong-gerbong yang ditumpuk sampai tiga tingkat, spot yang bagus untuk berfoto. Tapi lagi asik-asik foto, ditegur oleh satpam....katanya ga boleh ambil foto disini. Lho, kenapa? Harus ijin pimpinan dulu katanya. Hm....peraturan yang aneh. Beberapa anak muda yang berfoto juga ditegur sama satpam. Pak satpam pun dengan sabar meladeni pertanyaan kita yang terheran-heran dengan peraturan yang lain dari yang lain ini. Okedeh...akhirnya kita keluar untuk mencari makan siang. Untungnya diluar stasiun masih bisa foto, tuh di bawah patungnya Gatotkaca. Hehehe....
Kereta akan berangkat lagi menuju Jakarta Kota pukul 13.40 WIB.  Dan kita pun pulang berpanas-panasan lagi.  Aku kecewa karena ga bisa berfoto di tumpukan gerbong. Tapi Zaki tidak pernah ada kata kecewa, yang penting pernah naik KA Lokal dia sudah hepi. Eh, tapi setelah kereta jalan lagi, aku sempet mencuri ambil gambar dari dalam kereta. Klik, dapet foto gerbong rusaknya......yesss.... Setelah itu, aku ditegur oleh Zaki. Katanya, Ibu, kan gak boleh moto kereta  gerbong  rusak itu, kata Pak Satpam. Ibu Zaki pun nyengir.....



          3.   Stasiun Tugu Yogyakarta

Berkunjung ke Stasiun Tugu Yogyakarta ini adalah inisiatif Zaki, dimana di salah satu edisi Majalah KA, ada pintu perlintasan yang digeser otomatis. Zaki penasaran, ceritanya.  Nah, kebetulan sekali lebaran 2015 kemarin kita mudik ke Klaten. Ibu Zaki yang ikut penasaran punya rencana seru, yaitu jalan-jalan ke Yogya naik KA Lokal Prameks dari Stasiun Klaten sampai Stasiun Tugu Yogyakarta. Di hari Minggu kita berangkat. Ternyata KA Lokal Prameks ini juga murah bingits lho, Cuma Rp8.000,- aja, melayani relasi Stasiun Solo Balapan-Yogyakarta.  Peminatnya juga banyak, apalagi kalo musim liburan begini. Saking ramenya, kita harus nunggu tiga jam untuk naik KA Lokal Prameks berikutnya.
            KA Lokal Prameks hanya terdiri dari empat gerbong saja. Didalamnya seperti Commuter Line, banyak penumpang yang berdiri, tapi ga terlalu berdesak-desakan dan masih bisa bernafas lega dan duduk di lantai. Jadwalnya juga banyak,  setengah jam sekali.  Jarak tempuh dari Stasiun Klaten ke Stasiun Yogyakarta hanya perlu waktu setengah jam saja, cepet banget kan. Akhirnya kita turun di Stasiun Tugu Yogakarta. Kondisi Stasiun Tugu rame banget. Lokasinya strategis dan dekat dengan Jl. Malioboro, tempat tujuan wisata utama Yogyakarta. Rasanya belum ke Yogya kalo nggak mampir di Malioboro.
  
          Zaki sudah ga sabar pengen lihat pintu geser otomatis. Kalo Ibu udah ga sabar pengen shopping dan  makan di Malioboro. Dari pintu keluar stasiun, kita bisa berjalan kaki selama 10 menit menuju pintu geser otomatis. Letaknya persis di seberang ujung jalan Malioboro. Zaki kelihatan senang dan bersemangat. Dia langsung mengabadikan momen gesernya dan datangnya kereta api. Ibu yang dari tadi sudah pengen makan dan jalan-jalan nggak dihiraukan oleh Zaki. Keinginan Zaki semula yang pengen menikmati nasi angkringan asli di Yogya juga terlupakan. Dia lebih memilih ngetem di pintu geser.
         Liburan ke Yogya akhirnya hanya sampai di pintu geser dan beberapa blok toko di Malioboro saja. Ketika akan pulang lagi ke Klaten, kita harus ngantri dari jam 5 sore untuk mendapatkan tiket jam 8.30 malam.  Ibu lupa, harusnya begitu turun langsung beli tiket pulang. Dan…setelah ngantri lama, tiket juga kehabisan. Huuuuuu….ratusan calon penumpang kecewa. Untungnya, Yogya-Klaten masih bisa ditempuh dengan bis. Bis Trans Yogya yang melewati Jl. Malioboro ternyata ada rute Candi Prambanan. Yowislah…. Kita akhirnya naik Trans Yogya. Murah bingittttsss, tiketnya Cuma Rp3.500,- aja, ngantrinya cuma sebentar. Di Prambanan, Bapake sudah menunggu.


 Untuk melihat jadwal KA Lokal, silakan lihat di http://keretaapikita.com/jadwal-ka-prameks/

Oke Temans.....sampai disini dulu yah cerita jalan-jalannya.....next time disambung lagi dengan stasiun yang lain....



Rabu, 15 Juli 2015

Dalamnya Puisi Soe Hok Gie

Posting ini merupakan repost dari blog multiply-ku yang sudah almarhum. Setelah di-googling berdasarkan tag "kaki-kakiku kaku", ternyata ada beberapa blogger yang sudah mengutip postingan ini. Alhamdulillah, ga usah mikir-mikir lagi untuk mencari kata-kata. Lets cekidot....


Mandalawangi - Pangrango


Senja ini, ketika matahari turun kedalam jurang2mu
aku datang kembali
kedalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu

walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
dan aku terima kau dalam keberadaanmu
seperti kau terima daku

aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
hutanmu adalah misteri segala
cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta

malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi Kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua

"hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya "tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar
'terimalah dan hadapilah

dan antara ransel2 kosong dan api unggun yang membara
aku terima ini semua
melampaui batas2 hutanmu, melampaui batas2 jurangmu

aku cinta padamu Pangrango
karena aku cinta pada keberanian hidup

Jakarta 19-7-1966



Puisi ini memberiku inspirasi untuk mulai mencintai gunung. Aku gak tahu tepatnya kapan aku temukan puisi ini. Lupa. Yang aku ingat, sejak tahu puisi ini dibuat oleh Soe Hok Gie, aku mulai tertarik dengan pembuatnya. Dan tertarik juga untuk menyambangi Mandalawangi. Pengen tahu sehebat apa pesonanya sampai-sampai Gie mengidolakan tempat itu.

Bersyukur, aku gak perlu jauh-jauh cari info. Teh Dian, temanku waktu di Bandung, meminjamkan buku antiknya berjudul CATATAN SEORANG DEMONSTRAN (CSD). Kusebut antik karena warna kertasnya yang udah kuning kecoklatan dan jahitannya yang udah gak utuh lagi menampakkan kalo buku itu sudah berumur. Mungkin karena itu aku tidak menemukan puisi Mandalawangi-Pangrango dalam buku CSD, karena ada beberapa halaman yang hilang.


Soe Hok Gie, lahir di Jakarta 17 Desember 1942, seorang mahasiswa UI tahun '66 yang juga aktivis dan banyak menyuarakan tentang HAM dan tentang semua ketidakadilan yang terjadi di masa itu. Orangnya idealis, berani dan gigih. Dia mengobarkan pemikiran dan sikapnya melalui tulisan, dalam mimbar diskusi, rapat senat mahasiswa sampai berdiri di barisan terdepan dalam demonstrasi menentang rezim Soekarno. Dia juga tergabung dalam Mapala UI. Alun-alun Mandalawangi di gunung Pangrango adalah tempat favoritnya. Dia meninggal di gunung Semeru bersama seorang kawannya akibat menghirup gas beracun yang menghembus dari kawah Mahameru, tanggal 16 Desember 1969, sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27. Pada tahun 1975, makamnya dibongkar dan tulang belulang Gie dikremasi dan abunya disebar di puncak Gunung Pangrango. 


Cita-cita Soe Hok Gie untuk mati di tengah alam betul-betul kesampaian. Cocok dengan ungkapan dari puisi Yunani yang suka dikutipnya; "Nasib terbaik adalah tak dilahirkan. Yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Bahagialah mereka yang mati muda."

Soe Hok Gie memang mati muda. Tapi semangatnya tetap hidup dan memberi inspirasi pada banyak orang. Sampai saat ini, puisi Mandalawangi-Pangrango menjadi puisi wajib bagi para pendaki gunung.


Rabu, 22 April 2015

Peduli TORCH, Peduli Keturunan Kita.....

Temans, pernahkah temans punya masalah dengan mata, syaraf otak, keguguran, lemah kandungan, susah hamil, anak yang lahir tidak sempurna, flu berkepanjangan dan tidak sembuh-sembuh. Jika iya, temans boleh curiga adanya TORCH dalam darahnya. Tidak familiar dengan istilah TORCH? Nah, kali ini saya akan memaksa temans untuk aware dengan penyebab berbagai penyakit ini. Berikut saya kutip dari spesialistorch.com.


       TORCH adalah singkatan dari Toxoplasma gondii (Toxo), Rubella, Cyto Megalo Virus (CMV), Herpes Simplex Virus (HSV) yang terdiri dari HSV1 dan HSV2 serta kemungkinan oleh virus lain yang dampak klinisnya lebih terbatas (Misalnya Measles, Varicella, Echovirus, Mumps, virus Vaccinia, virus Polio, dan virus Coxsackie-B).
       Penyebab utama dari virus dan parasit TORCH (Toxo, Rubella, CMV, dan Herpes) adalah hewan yang ada di sekitar kita, seperti ayam, kucing, burung, tikus, merpati, kambing, sapi, anjing, babi dan lainnya. Meskipun tidak secara langsung sebagai penyebab terjangkitnya penyakit yang berasal dari virus ini adalah hewan, namun juga bisa disebabkan oleh karena peratara (tidak langsung) seperti memakan sayuran, daging setengah matang dan lainnya.
        Dalam dunia medis, Toxo sering disebut juga dengan virus kucing. Padahal sesungguhnya ini bukan virus kucing, tetapi parasit darah. Kenapa sering disebut virus kucing : selain sebutan ini sudah salah kaprah, memang parasit ini tumbuhnya di dalam tubuh binatang. Hal mana menurut penelitian di dalam maupun di luar negeri, 70% penyebab penyakit ini adalah kotoran kucing. Kemudian melalui hewan lain yang menempel dalam makanan, lalu masuklah ke dalam tubuh manusia dan menyatu dalam darah.
         Awalnya seseorang yang mengidap Toxo ini tampak sehat tetapi kemudian ketika sedang hamil mulai muncul sejumlah gejala. Gejala yang sering terjadi adalah flek pada wanita yang sedang hamil. Flek ini bisa terjadi terus menerus sepanjang kehamilan, janin di dalam rahim tidak berkembang, hamil anggur, atau bayinya meninggal pada usia kandungan 7-8 bulan. Bahkan yang seringkali terjadi adalah keguguran.
Sebenarnya Toxo bukanlah penyakit menular kepada pasangan, tetapi ia menular pada keturunan. Bisa jadi anak pertama dan kedua sehat, tetapi anak ketiga cacat atau mengalami Epilepsi dan autisme. Tetapi yang sering terjadi sesungguhnya jika dilakukan tes di laboratorium, baik anak pertama maupun anak kedua sesungguhnya turut terinfeksi.
         Berbeda dengan Rubella. Penyakit ini orang sering menyebutnya dengan Campak Jerman. Pada kasus Rubella, ibu hamil tidak mengalami keguguran atau bayinya meninggal saat lahir, tetapi yang sering terjadi adalah bayi yang dilahirkan mengalami glukoma, atau kebutaan, kerusakan pada otak atau pengapuran pada otak, bibir sumbing, tuna rungu dan sulit bicara.
         Sedangkan pada pengidap CMV (Cyto Megalo Virus), misalnya seorang ibu pada saat hamil, ia akan mengalami keguguran terus menerus, atau bayi yang dikandungnya lahir dalam keadaan cacat fisik, seperti Hidrosefalus (pembesaran kepala), Microsefalus (pengecilan kepala), lahir dengan usus keluar tubuh, tubuh transparan atau kaki dan tangannya jadi bengkok.
         Kemudian, untuk penyakit Herpes lain lagi. Kemunculannya ditandai dengan bintik – bintik pada tubuh dan pada alat genital. Seorang yang mengidap Herpes, di samping kesakitan, juga terasa panas. Bagi wanita hamil sering keguguran atau bayinya lahir dalam keadaan cacat.
Jadi Toxo, Rubella, CMV, dan Herpes dapat menyebabkan rusaknya fertilitas pada wanita. Sel telur maupun inti sel dirusak oleh virus tersebut sehingga sel terlurnya mengecil dan tidak bisa dibuahi. Dengan adanya infeksi TORCH ini, pada wanita bisa menyebabkan terbentuknya mioma, penyumbatan atau perlengketan, sehingga sel telur tidak bisa dibuahi atau mengakibatkan sulit hamil.
         Toxo tidak menular pada pasangan, sedangkan Rubella, CMV, dan Herpes bisa menular. Penularan bisa terjadi melalui hubungan seksual, air liur, keringat, darah, dan Air Susu Ibu (ASI). Sehingga jika wanita terjangkit Rubella, CMV, dan Herpes, maka suaminya pun dapat tertular. Sulitnya terjadi kehamilan pada wanita disebabkan oleh virus tersebut memperburuk kualitas spermatozoa/sperma, karena kekentalan sperma menjadi cair. Volume sperma yang seharusnya 5 CC menjadi 3 CC dan gerakannya pun sudah berubah.
         Perlu ditegaskan lagi bahwa Toxo maupun Rubella dan CMV serta Herpes BUKAN hanya milik ibu hamil saja. Tetapi siap pun bisa terkena TORCH. Baik dia orang dewasa, kamum muda, lansia, maupun balita. Kemudian TORCH ini yang diserang adalah saraf otak, mata dan gerak. Jika menyerag otak misalnya gejalanya sering sakit kepala, radang tenggorokan, atau flu berkepanjangan. Otot – otot terasa sakit sampai ke persendian dan pinggang. Kaki pun mudah capek dan lemas, menggigil kemudian lambung pun sakit.
sumber: spesialistorch.com

Nah......untuk mengetahui ada tidaknya TORCH dalam tubuh kita, perlu ada tes darah di laboratorium. Sepertinya semua Lab Klinis sekarang sudah bisa tes TORCH. Tanpa perlu rujukan dari dokter, kita tinggal datang ke lab dan menyampaikan maksud untuk dites TORCH. Biaya tes TORCH IgG dan IgM komplit saat ini berkisar di Rp2.000.000,-. Kalo mau ambil parsial juga boleh, misal tes komplit yang IgG-nya aja atau tes salah satu aja misal Toxoplasma atau Rubella aja. Biayanya nanti di-break down lagi.
Jika dari hasil tes darah tersebut ada TORCH yang positif, kita bisa bertanya ke petugas lab, apa artinya hasil tersebut. Dan kita pun bisa mengambil ancang-ancang untuk melakukan pengobatan. Bagi temans yang ingin ke dokter silakan.... bagi temans yang ingin langsung berobat alternatif, silakan. Semuanya saya rekomendasikan untuk melihat dulu apa yang akan terjadi apabila TORCH menyerang tubuh kita. Klik disini

Berkaitan dengan pengobatan alternatif TORCH ini, saya sudah merekomendasikan beberapa teman agar berkunjung ke web TORCH-nya Pak Juanda atau langsung  kopdar dengan Pak Juanda. Alhamdulillah beberapa teman ternyata menindaklanjuti dan berobat sampai tuntas. Namun beberapa teman juga memandang pesimis dengan info ini. Mungkin karena label alternatif yang rata-rata menggunakan cara mejik dalam pengobatannya. Nah, dengan ini saya infokan juga bahwa pengobatan dari Pak Juanda bukan pengobatan mejik. Dari mulai deteksi TORCH aja sudah bukan mejik. Adapun pengobatannya dengan cara minum jus yang sudah diramu sedemikian rupa dan diminum dengan cara sedemikian rupa juga merupakan proses ilmiah. Jus yang dibuat oleh Pak Juanda terdiri dari buah pace, tapak dara dan temu mangga merupakan tanaman-tanaman antivirus. Dan madu yang disarankan untuk dicampur dengan jus juga sudah tidak asing lagi merupakan minuman yang menyehatkan. Oleh karena itu, jangan khawatir untuk terjerumus dengan kemusyrikan. 

Oya, untuk berobat dengan Pak Juanda ini temans tidak perlu bertemu dengan beliau lho. Jika TORCH sudah positif, boleh langsung beli di kantor pusat di Bogor atau di outlet yang ditunjuk di beberapa kota besar. Tapi kalo temans ada yang penasaran pengen ketemu dan konsultasi langsung dengan founder terapi ini, bisa juga. Pak Juanda mengadakan seminar di beberapa kota besar dengan jadwal yang tetap setiap bulannya. Harga jus herbal per botol 600ml sekarang berkisar Rp 800.000,-. Sedangkan madu bisa dibeli di mana saja. Satu botol jus herbal tersebut bisa diminum untuk jangka waktu satu bulan. Waktu pengobatan paling lama adalah 6 bulan. Biasanya di bulan ketiga, temans akan diminta untuk tes darah lagi untuk melihat perkembangan TORCH-nya. Jika masih positif pengobatan dilanjut sampai 6 bulan. So bagi temans yang ingin berobat di Pak Juanda sisihkan uang bulanannya untuk terapi... Harga segitu, nilainya kecil jika dibandingkan hasil yang akan kita peroleh. Bayangkan saja yang sering keguguran, akan bisa melahirkan dan punya anak. Yang belum punya momongan, akan segera menimang bayi. Yang vertigo akan segera bilang bye...bye vertigo, dan lain-lain. Jangan lupa berdo'a juga yah....karena yang mengabulkan ikhtiar kita adalah tetap Yang Di Atas.

Eh, mungkin ada yang heran dan bertanya-tanya kenapa sih jenk Wiwin serius amat mempromosikan terapinya Pak Juanda? Jangan-jangan dapat komisi nih dari yang Rp800.000,- itu (maklum tukang jualan palu gada). Hehehee....... Alhamdulillah saya dapat komisi pahala yang tidak dibayar kontan didunia. Saya pernah punya masalah dengan TORCH ini sampai akhirnya merasakan manfaatnya yang luar biasa, khususnya untuk jagoan saya, Zaki. Nanti saya ceritakan di postingan berikutnya yah......

Fayha & Kalila
Ada temans yang sudah aware dengan TORCH ketika baru menikah. Dia tidak menunggu gejala yang terlihat untuk memastikan adanya toxoplasma di tubuhnya, dan benar positif tinggi. Gak pake ba bu bi lagi, begitu hamil langsung berobat ke Pak Juanda dan minum jus selama masa kehamilan. Kini putrinya sudah 2, normal, cantik dan pintar-pintar. Tumbuh kembangnya cepat dan jarang sakit. Hallo Fayha Kalila cantik......
Kalo urusan jarang sakit ini, aku alami sendiri dengan Zaki. Zaki kecil setelah berobat ke Pak Juanda jarang banget sakit, meskipun cuma pilek batuk. Berbeda dengan teman seusianya yang sedikit-sedikit harus ke dokter karena sakit. Dan karena Rubella dan CMV-nya sudah negatif, memudahkan Zaki untuk menangkap stimulasi yang datang. Padahal sebelumnya Zaki seperti anak autis yang sulit menangkap stimulasi apapun.






Baiklah temans, sekian dulu yah info dari aku.  Mudah-mudahan bermanfaat....
Cheers.....


Rabu, 11 Februari 2015

Behind The Scene Cilok Mindo '45

    
Pernah tahu cemilan ini? Cilok atawa Aci Dicolok. Kalau urang Sunda pasti tahu, yang bukan urang Sunda tapi pernah tinggal di bumi Parahyangan mestinya juga tahu. Ketika SD dahulu kala di Sumedang, tepatnya SD Panyingkiran II, ada warung sekolah yang salah satu jualannya adalah cilok. Coba kita bayangkan sebentar yah.....ciloknya  itu kenyal sekali tapi gak melawan ketika masuk mulut, bumbu kacangnya yang berminyak pedas sangat gurih...penampilannya juga oke banget menggiurkan. Yammiiiii......nom...nom... Jadi kangen masa-masa SD dulu.
       Di jaman sekarang, cilok seperti itu tidak ditemukan lagi. Bahkan, pernah suatu masa, cilok benar-benar gak ditemukan. Mungkin masa itu cilok dianggap makanan pinggiran yang gak ada gizinya sama sekali. Sampai-sampai kangen cilok tuh benar-benar gak kesampaian. Hehe....kayak hidup di planet mana aja... padahal mah di Bogor. Baru beberapa tahun belakangan ini, jajanan tempo dulu muncul lagi. Tukang cilok mulai mewarnai jalanan dengan roda-rodanya. Rasa kangen akan cilok sedikit terobati. Tapi tetap saja tidak ada yang seenak cilok waktu SD dulu. :) Bumbu cilok pun sudah tidak orisinil lagi, kebanyakan tukang cilok menggunakan sedikit kacang tanah untuk bumbunya. Mungkin untuk menekan biaya produksi kali yah.... maklum makin hari harga kacang makin mahal. Rasa cilok juga makin hari makin gak karuan, entah karena bahannya yang tidak bagus, entah karena pembuatannya, entah karena apa.... pernah aku membeli cilok yang baunya sudah tidak asik lagi, mirip-mirip bau asem kaos kaki. Bayangin aja..... Bayangin pula kalo anak-anak kita jajan cilok yang seperti itu, lantas dengan bumbu saos yang bahannya antah berantah. Hiyyyy.....
     Maap yah, tidak semua tukang cilok rasanya seperti itu. Ada juga cilok yang rasanya mantep dan hampir mendekati cilok SD dulu. Di Bandung ada yang namanya Cilok Bapri, Alhamdulillah sudah pernah nyoba, baru ketemu minggu kemarin. Dan rasanya......bikin kita bilang....What A Cheelock!!!!
Selain itu, belum pernah lagi ketemu cilok yang lebih enak rasanya.
      



     Berawal dari pengalaman ketemu cilok yang bau asem, radar sense of bussines-ku berbunyi. Di Jakarta, dimana emak-emak sudah mulai aware dengan makanan yang sehat, sepertinya punya usaha cilok asik juga. Disamping jadi sampingan, bisa menikmati cilok sesuka hati, dan yang penting ini....Zaki gak perlu jajan cilok sembarangan. Resep cilok dengan  mudah diperoleh dari mbah Google. Terima kasih dan sungkem buat para netizen yang telah berbaik hati bagi-bagi resep cilok.
      Pertama kali bikin cilok, rasanya atos alias keras. Sekali dua kali gagal, namun aku begitu pede-nya melempar ke pasaran. Tolok ukur keberhasilan cilokku adalah jika konsumen pesen lagi, berarti sudah diterima oleh lidah konsumen. Tapi, penjualan perdana itu tidak ada tindaklanjutnya. Konsumen tidak berkomentar (mungkin kasian kalo aku dikritik), tidak ada testimoni apa-apa. Akupun memvonis diri sendiri, bahwa eksperimen pertamaku gatot alias gagal total. Eksperimen selanjutnya, target berbeda lagi. Kali ini aku dapat testimoni dari seorang teman, dan inilah yang ditunggu-tunggu. Katanya: "Pas mau dimakan, ciloknya melawan".  Haahahaahha.....malu sebenarnya, tapi tidak apa, ini adalah awal kebangkitan. Calon pengusaha tidak boleh sakit hati ketika dikritik, malah jadikan kritikan itu adalah masukan menuju sukses. Yup....berjibaku lagi membuat adonan. Setelah berkali-kali gagal menemukan tekstur yang pas untuk cilokku,  akhirnya ketemu juga kombinasi resep yang pas. Yess....ketika dilempar ke konsumen target baik edisi gratis maupun berbayar, tanggapannya mulai positif. Sedikit keasinan atau kurang asin dan gurih adalah biasa, yang penting teksturnya oke.
      
Urusan tekstur cilok beres, bumbu kacang no problem, tinggal nama nih. Ketika itu kunamai Cilok Mingdo, artinya adanya Minggu Doang, mengingat aku bikin cilok cuma di hari Minggu. Hihihi...asal aja yah. Nah ternyata di kemudian hari, produksi cilok tidak hanya hari Minggu, nama Mingdo tidak relevan lagi. Nyari nama lain tapi gak jauh beda dengan sebelumnya, ketemu Cilok Mindo '45. Mindo itu artinya nambah lagi (ingat beger mindo? hahhaa) dan '45 adalah nama merk kebesaran  keluarga Apih dan Emih. Dan...inilah Cilok Mindo '45.....atau Cimind '45

Apa bedanya dengan cilok yang lain?
Cimind '45 dibuat dengan sepenuh cinta dari hati yang paling dalam.... bahan-bahannya kualitas super dan istimewa, dibuat tanpa menggunakan MSG, MNG atau bahan pengawet lainnya, penyedap alami dari kaldu ayam, pengenyal alami dari ekstrak rumput laut. Cimind '45 dikemas dengan cantik dalam keadaan vacuum dan disimpan dalam freezer yang membuatnya tetap awet meskipun sudah berminggu-minggu bahkan sampai 2-3 bulan.
O...kalo gitu pasti harganya mahal.... Saya tangkis! Tidak, Cimind '45 dibandrol Rp 15.000,- saja, dengan isi 20 jendol, harganya masih bisa bersaing dengan cilok yang lain.

Akhirnya, telah kutemukan dimana aku bisa menuangkan ekspresi dan mengembangkan sayap. Kuliner Sunda dengan segala singkatan-singkatannya seperti cimol, cilok, cireng, cilung, comro, misro dan lain-lain adalah target selanjutnya. Perjalanan Cimind '45 masih panjang, masih harus ke BPOM, LPP MUI dan sebagainya. Do'akan sukses yah..... Bismillaahirrohmaanirrohiim....Cilok Mindo '45 meluncur.....
            


Minggu, 22 Desember 2013

Air Terjun Cibeureum, hiking pertamaku



"Jam berapa sekarang, Ibu?" Zaki terbangun dari tidur malamnya. Rupanya dia gak jauh beda dari ibunya, kalo sudah ada rencana seru besok, malamnya gak bisa tidur nyenyak. 
"Jam 12.30 sayang, tidur aja lagi, pagi masih lama. Zaki harus istirahat dulu, besok perjalanan jauh. Tidur lagi yah..." jawabku. Zaki pun pulas kembali, sampai pagi. 

Pagi ini, Sabtu, 7 Desember 2013, aku dan Zaki punya rencana seru, treking ke air terjun Cibeureum di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Jadi inget masa-masa awal menjadi ibu, aku pernah berharap, anakku kelak bisa mencintai gunung, sebagaimana aku mencintainya dulu. Lalu aku juga berjanji dalam hati, suatu saat aku akan mengajaknya ke Gunung Gede Pangrango, sebagai perkenalan anakku dengan gunung. Bagaikan mimpi jadi kenyataan, aku sangat bersemangat dengan rencana ini. Jam 08.00 kami berangkat dari Bogor dengan menumpang minibus L300 Cianjuran. Luar biasa, sepanjang jalan Bogor-Cibodas, L300 ini melaju dengan lancar, tidak menemui titik kemacetan, berkelok-kelok di jalur alternatif dengan mulus. Meskipun jalur Puncak sangat macet, L300 kami berhasil menghindarinya, sehingga perjalanan hanya memakan waktu 2 jam perjalanan. 

Jam 10.00 sampai di areal wisata Cibodas. Hawa dingin mulai menyapa. Sudah hampir 2 tahun aku tidak menjejakkan kaki di Cibodas ini, terakhir ketika penilaian IP, itu juga hanya di sekitar Kebun Raya Cibodas. Aku hampir lupa jalan menuju gerbang pendakian. Aku mengingat-ingat ketika waktu dulu tahun 2001 ikut pendakian Kartini, di areal parkir bis dimana aku istirahat di sebuah warung makan. Sekarang Cibodas sudah jauh berbeda, tapi tidak sulit untuk menemukan gerbang untuk menuju air terjun, karena disana sini banyak petunjuk jalan. Lihat, Zaki sudah menemukannya. :) 

Aku dan Zaki berjalan dengan pasti menuju gerbang. Perasaan kami mulai meletup-letup. Betapa tidak, ini pertama kalinya aku kembali ngetrek setelah lebih dari satu dasawarsa, dengan ANAKKU. Aku tidak tahu apakah kakiku ini masih kuat menopang berat tubuhku ketika menapaki tangga batu. Apakah napasku masih kuat seperti dulu. Jantungku berdegup lebih kuat. Apalagi perjalananku kali ini membawa misi menyangkut masa depan anakku. Ibarat syair lebay, gunung pun akan kudaki, lautan kan kusebrangi, demi kamu, Anakku. Mungkin Zaki juga merasakan hal yang sama, aku yakin itu. 

Akhirnya sampai juga kami di gerbang pendakian Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGPP). Tiketnya murah banget, cuma Rp 3.000,00 per orang. Gerbang ini merupakan gerbang bagi yang akan mendaki ke puncak Gunung Gede dan puncak Gunung Pangrango. Sudah banyak pengunjung yang akan naik, baik yang akan berkemah di puncak Gede dan Pangrango, yang hanya sampai air terjun, atau yang sekedar jalan aja berdua-duaan. Tujuan pengunjung sangat kelihatan dari style mereka. Pendaki sudah siap dengan keril mereka yang overweight itu dan sepatu gunungnya. O my God.... I miss me very much. Pengunjung shortime cukup dengan sandal terbuka dan tas sekedarnya, seperti kita. Hehee....Nampang dulu, Zak......

Satu persatu anak tangga batu kita lalui. Jalan terus menanjak seakan-akan tidak ada ujungnya. Sedikitpun tidak aku lihat kelelahan di wajah Zaki. Dengan ringannya kaki Zaki berjalan dan jika tidak aku ingatkan terus, pasti dia sudah jauh meninggalkan aku. Hebat anakku, sekalipun tidak pernah aku dengar napasnya ngos-ngosan. Malah aku dengar napasku sendiri ngos-ngosan dengan keringat gede-gede. Hehehe.....faktor U, kata orang-orang. Sepanjang jalan, Zaki tidak henti-hentinya menyapa pengunjung yang berpapasan atau yang kebetulan kita salip. Sempat-sempatnya juga dia kenalan dengan pengunjung yang sama-sama akan ke air terjun. Zaki.....zaki..... kamu itu ibu banget yah....... Sambil melewati hutan tropis yang masih basah karena tak henti-hentinya hujan, Zaki mereview pelajaran2 sekolahnya. Dia cari benalu, tali putri, akar pohon, dan lain-lain. Pas banget buat ngingetin pelajarannya semester ini yang bertema Cinta Lingkungan.
       
Setelah satu  jam perjalanan, akhirnya sampai kita di Telaga Biru. Telaga kecil dengan air berwarna biru. Ayo, Zaki, tinggalkan jejak dulu disini.......artinya difoto dulu. Hehe......
 
Perjalanan kami lanjutkan. Tidak jauh dari Telaga Biru,  kami melewati jembatan beton. Jembatan beton ini dibangun melintasi Rawa Gayonggong, jembatannya cukup panjang. Keberadaannya cukup romantis, menurutku. Bayangkan, di tengah hutan ada jembatan seperti ini. Entah dibangun tahun berapa, yang jelas dulu terakhir aku kesini 12 tahun yang lalu, belum ada jembatan romantis ini. Rasa lelah setelah menapaki tanjakan tadi, hilang begitu tiba di jembatan ini.

 Setelah melewati Rawa Gayonggong, jalan mulai menanjak lagi. Kami pun bersiapberkeringat lagi. Tapi tak lama kemudian, kami tiba di Pos Panyangcangan, artinya kami tinggal 300 m lagi menuju air terjun Cibeureum. Pos ini merupakan pertigaan, jika kita ambil jalan kiri yang menanjak maka kita akan menuju Puncak Gede Pangrango dengan maksimal jarak 10,5 km menuju puncak Pangrango. Jika kita ambil jalan kanan menurun, maka kita akan tiba di air terjun Cibeureum.



 
"Zaki, tahu tidak.... jalan ini adalah jalan menuju Alun-Alun Suryakencana dan Kawah Gede, Ibu pernah berkemah di sana, seperti di foto," kataku sambil menunjuk jalan arah ke kanan.
"Aku sudah ada belum?" tanya Zaki.
"Belum, ehmm.......Zaki masih di langit," jawabku sambil bingung gimana menjelaskannya.
"Nggak....aku masih di perut Ibu," katanya. Hahaahha....aku tersenyum dan mencium keningnya dengan gemes.
    
Jalan mulai menurun setelah dari Panyangcangan. Tak lama terdengar suara gemuruh air, aku yakin itulah air terjun yang kita tuju. Dari balik dedaunan, akhirnya terlihat semburan air dari ketinggian. Subhanallooh...... aku berseru pada Zaki. Alhamdulillah, kita sampai di air terjun. Aku berseru dengan hati yang membuncah. Sejak dari bawah aku terus berdoa agar diberi kelancaran menuju air terjun. Zaki pun terus aku motivasi, aku ingatkan terus pesan Bu Estu. Tapi rupanya Zaki lebih semangat dari motivatornya. Hahahahha....Dia ingin segera nyebur ke air terjun.
       
Aku masih ingat ke air terjun ini tahun 2000 ketika mendaki dengan teman-teman KP2LN Bandung 2. Air terjunnya sih gak berubah, cuma sarana penunjangnya sudah lebih baik. Sudah ada jembatan beton lagi dan toilet yang bersih. Terbayang foto kita bersama ketika duduk siap-siap mau nyebur, ada yang ikut kefoto bareng Wagino. Hiyyyyy.....
         
Semburan air terjun terasa sampai jauh, hawa dinginnya benar-benar menusuk. Disana sudah ramai pengunjung. Zaki malah ketemu teman baru, seorang anak kecil berumur 5 tahun bernama Rizki sudah nyebur duluan ke air terjun. Aku mengarahkan Zaki agar sebisa mungkin cipratan air terjun mengena di matanya. Menyenangkan sekali berada di bawah sini. Walaupun dingin banget, tapi hatiku begitu hangat. Ya Allah, apapun yang kulakukan untuk kesembuhan anakku, semoga Engkau melihat kesungguhanku. Aku menagih janji-Mu bahwa jika hamba-Mu bersungguh-sungguh, Engkau akan kabulkan hajatnya. Man Jadda Wajada.

Hanya sampai setengah jam saja kita berkecimpung dalam dinginnya air terjun. Sempat pindah ke air terjun yang satunya, lebih tinggi namun arusnya lebih kecil, sehingga tidak menarik untuk nyebur. Zaki sudah mulai menggigil kedinginan. Biasanya dia excite banget bermain dengan air, namun kali ini terlalu dingin, sehingga tidak tahan lama-lama. Waktunya makan....... dan istirahat. Beruntung aku bawa perbekalan lengkap dengan jaket dan jas hujan, sehingga zaki bisa lebih terlindungi dari hujan dan gerimis. Misi terselesaikan. Alhamdulillah.......

Kita turun gunung jam 12.30 WIB. Badan sudah segar dan tidak terasa capek lagi, sepertinya perjalanan akan lancar jaya. Berkali-kali kita berpapasan dengan para pendaki yang akan ke Puncak Gede Pangrango. Tak lupa Zaki selalu menyapa mereka. God, we'll miss the waterfalls. Tiba di gerbang pendakian jam 14.00, istirahat dan makan lagi. Entah kenapa, kalo di gunung itu, menu yang paling nikmat pasti makan mie instant rebus. Padahal kalo di rumah, mie instant  sangat tidak diperbolehkan. Kali ini kita langgar, deh..... hehehe....
     
Sebelum kembali ke kota, kita sempatkan mengunjungi Kebun Raya Cibodas. Numpang sholat dan setor. Sayang gak bisa keliling dengan menggunakan trem, karena sudah terlalu sore dan tidak ada pengunjung lagi. Akhirnya kita pulang dengan kenangan paling indah bersama Zaki. Aku tidak khawatir dengan Zaki, dia hanya merasakan pegal semalam saja, lebih cepat dibanding aku. Aku pun kembali merasakan sensasi pegal-pegal nikmat di kedua kakiku, rasa yang sama 12 tahun yang silam. Walapun demikian, sekarang kakiku tidak sekuat dulu. Kakiku masih kaku jika berhadapan lagi dengan gunung. Tapi inilah janjiku pada gunung, aku akan kembali mencintainya, dengan anakku........